TIDAK HALAL PENARIKAN KEMBALI HIBAH

Pengadilan Agama di Lhoksukon:

No. 197/G./1991/P.A. LSK, tanggal 13 Januari 1992 M / 8 Rajab 1412 H.

Pengadilan Tinggi Agama di Banda Aceh :

No. 23/1992, tanggal 14 Desember 1992. M / 19 Jumadil Akhir 1413 H.

Mahkamah Agung RI

No. 77K/AG/1993, tanggal 26 Pebruari  1994

Catatan :

  • Dari putusan Mahkamah Agung RI tsb ditas, dapat diangkat  “ABSTRAK HUKUM” sbb:
  • Seorang ibu semasa hidupnya telah menghibahkan harta miliknya kepada tiga orang anak kandungnya: 1. M.Husen binUjud. 2. M. Raden bin Ujud dan 3. Syarifah binti Ujud.

Bagian dari haknya M. Raden dititpkan dan dipegang oleh Ibunya sampai hayatnya. Dan tidak lama kemudian M. Raden juga wafat dengan meninggalkan  anak kandung (ahli waris). Tanah hak M. Raden almarum yang berasal dari hibah twb lalu dikuasai oleh M. Husen bin Ujud dan tidak bersedia menyerahkan kepada anak-anaknya M. Raden alm. Dengan alasan tidak peranh ada Hibah kepada M. Raden tanah tetap dikuasai ibunya.

  • Hibah seorang ibu kepada anak kandungnya M.Raden tsb adalah syah hukumnya karena sesuai dengan syariat Islam : Kitab L’ANATUTHTHALIBIN, Hibah adalah menyerahkan Hak Milik tanpa imbalan dengan disertai Ijab dan Qobul berupa ucapan maupun isyarat. Serta adalah Tidak Halal bagi seorang lelaki menarik kembali Hibah (pemberian) kepada anaknya.
  • Demikain catatan atas kasus ini.

Sumber : Majalah Hukum Varia Peradilan No. 135. Tahun. XII. Desember . 1996. Hlm. 74 .

PUTUSAN TERSEDIA : PENGADILAN AGAMA

Anda mungkin juga berminat