TATA CARA PENGELOLAAN BARANG BUKTI DI LINGKUNGAN KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA (PERATURAN KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010)

Sumber Foto: merdeka.com

Barang bukti merupakan benda sitaan yang perlu dikelola dengan tertib dalam rangka mendukung proses penyidikan tindak pidana

Barang Bukti adalah benda bergerak atau tidak bergerak, berwujud atau tidak berwujud yang telah dilakukan penyitaan oleh penyidik untuk keperluan pemeriksaan dalam tingkat penyidikan, penuntutan dan pemeriksaan di sidang pengadilan.

Barang Temuan sebagai barang bukti adalah benda bergerak atau tidak bergerak, berwujud atau tidak berwujud yang ditinggalkan atau ditemukan masyarakat atau penyidik karena tersangka belum tertangkap atau melarikan diri dan dilakukan penyitaan oleh penyidik.

Pengelolaan Barang Bukti adalah tata cara atau proses penerimaan, penyimpanan, pengamanan, perawatan, pengeluaran dan pemusnahan benda sitaan dari ruang atau tempat khusus penyimpanan barang bukti.

Penyidik adalah pejabat Polri yang diberi wewenang khusus oleh undang-undang untuk melakukan penyidikan

Penyidikan adalah serangkaian tindakan penyidik dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tentang tindak pidana yang terjadi dan guna menemukan tersangkanya

Penyitaan adalah serangkaian tindakan penyidik untuk mengambil alih dan atau menyimpan di bawah penguasaannya benda bergerak atau tidak bergerak, berwujud atau tidak berwujud untuk kepentingan pembuktian dalam penyidikan, penuntutan dan peradilan.

Barang bukti dapat digolongkan berdasarkan benda:

  1. bergerak; dan
  2. tidak bergerak.

Benda bergerak merupakan benda yang dapat dipindahkan dan/atau berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

Benda bergerak, berdasarkan sifatnya antara lain:

  1. mudah meledak;
  2. mudah menguap;
  3. mudah rusak; dan
  4. mudah terbakar.

Benda bergerak, berdasarkan wujudnya antara lain:

  1. padat;
  2. cair; dan
  3. gas.

Benda tidak bergerak, antara lain:

  1. tanah beserta bangunan yang berdiri di atasnya;
  2. kayu tebangan dari hutan dan kayu dari pohon-pohon yang berbatang tinggi selama kayu-kayuan itu belum dipotong;
  3. kapal laut dengan tonase yang ditetapkan dengan ketentuan; dan
  4. pesawat terbang.
  5. Barang temuan diperoleh petugas Polri pada saat melakukan tindakan kepolisian ataupun ditemukan masyarakat berupa benda dan/atau alat yang ada kaitannya dengan peristiwa pidana yang terjadi atau ditinggalkan tersangka karena melarikan diri atau tersangka belum tertangkap.

Barang temuan, dapat dijadikan barang bukti setelah dilakukan penyitaan oleh penyidik karena diduga:

  1. seluruh atau sebagian benda dan/atau alat diperoleh dari tindak pidana atau sebagai hasil tindak pidana;
  2. telah dipergunakan secara langsung untuk melakukan tindak pidana; dan
  3. mempunyai hubungan langsung dengan tindak pidana yang dilakukan.
peraturan-kapolri-nomor-10-tahun-2010-tentang-tata-cara-pengelolaan-barang-bukti-di-lingkungan-polri
Anda mungkin juga berminat