Pelakor Naik Daun? Ini Ketentuan Hukum Yang Mengintai Pelakor

Sumber foto : https://cdns.klimg.com/merdeka.com/i/w/news/2016/02/19/667573/670×335/perceraian-di-medan-terus-meningkat-mayoritas-istri-gugat-suami.png

Banyaknya fenomena yang terjadi saat ini, seperti Pelakor atau “Perebut Laki Orang” sangat memancing perhatian bahkan emosi kita. Karena ini sesuatu yang sangat tidak patut terjadi karena mengambil atau merebut lelaki orang lain hingga silelaki lebih mementingkan kehidupan perempuan yang bukan istrinya serta lupa memenuhi tanggungjawabnya kepada keluarga. Dari beberapa video yang viral mengenai Pelakor ini menjadi ramai diperbincangkan karena yang menjadi korbannya tidak hanya orang biasa bahkan para artis pun sudah terkena virus Pelakor ini.  Apalagi beberapa pelaku perebut suami orang ini, secara sadar bahkan mengetahui bahwa lelaki tersebut sudah memiliki istri yang sah. Bahkan yang lebih menyayat hati, para pelakor ini lebih memiliki tingkat emosi atau kegalakan yang lebih tinggi daripada istri sah tersebut tetapi ada juga istri sah mengamuk kepada pelakor hingga melemparkan ratusan juta.

Seperti yang kita ketahui mengenai ketentuan dasar perkawinan dalam Pasal 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yang menyatakan bahwa :

“Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga atau rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.”

Dari ketentuan hukum diatas, menuntut kita agar membentuk rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan yang maha esa. Dalam membentuk rumah tangga, sepasang suami istri diharap saling melengkapi walaupun menghadapi bermacam batu ujian seperti perselingkuhan ini baik dari suami ataupun istri. Memang tanpa kita sadari bahwa salah satu alasan perselingkuhan ini muncul karena adanya rasa bosan serta beberapa alasan lainnya.

Kita juga mengetahui selain melanggar ketentuan hukum, perselingkuhan ini juga dilarang oleh agama karena dapar menjadi sumber keretakan rumah tangga, apalagi perselingkuhan tersebut sudah sampai ke perbuatan zina atau melakuka hubungan badan dengan atau seksual dengan pasangan yang tidak sah, dapat melaporkan suaminya yang sudah melakukan zinah tersebut dengan dasar hukum Pasal 284 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang berbunyi:

1. Diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan:

1. a. seorang pria yang telah kawin yang melakukan gendak (overspel), padahal diketahui bahwa pasal 27 BW berlaku baginya,

    b. seorang wanita yang telah kawin yang melakukan gendak, padahal diketahui bahwa pasal 27 BW berlaku baginya,

2. a. seorang pria yang turut serta melakukan perbuatan itu, padahal diketahuinya bahwa yang turut bersalah telah kawin;

    b. seorang wanita yang telah kawin yang turut serta melakukan perbuatan itu, padahal diketahui olehnya bahwa yang turut bersalah telah kawin dan pasal 27 BW berlaku baginya.

2. Tidak dilakukan penuntutan melainkan atas pengaduan suami/istri yang tercemar, dan bilamana bagi mereka berlaku pasal 27 BW, dalam tenggang waktu tiga bulan diikuti  dengan permintaan bercerai atau pisah-meja dan ranjang karena alasan itu juga.

3. Terhadap pengaduan ini tidak berlaku pasal 72, 73, dan 75.

4. Pengaduan dapat ditarik kembali selama pemeriksaan dalam sidang pengadilan belum dimulai.

5. Jika bagi suami-istri berlaku pasal 27 BW, pengaduan tidak diindahkan selama perkawinan belum diputuskan karena perceraian atau sebelum putusan yang menyatakan pisah meja dan tempat tidur menjadi tetap.

Tetapi yang perlu diketahui bahwa, proses penuntutan ini hanya dapat dilakukan oleh pasangan yang sah atau istri yang suaminya direbut oleh Pelakor. Karena pasal 284 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana ini merupakan suatu delik aduan yang hanya dapat diproses apabila sipengadunya dari pihak istri yang dirugikan atau dirusak hubungan rumah tangganya. Oleh sebab itu, apabila sudah terpenuhi unsur-unsur yang ada didalam pasal 284 KUHP ini maka dapat dikenakan pidana.

Bagi pelaku pelakor bahkan suami yang tergoda dengan pelakor sebaiknya tersadarlah akan perbuatan yang dilakukan karena hal ini dapat berefek buruk pada diri sendiri, keluarga bahkan kejiwaan anak-anak apabila mengetahui perilaku orang tuanya. Kesetiaan merupakan sesuatu yang mahal bagi orang yang mahal juga, karena itu perdekatkanlah diri kita agar terhindar dan mampu menilai sesuatu yang jahat yang mencoba merusak hubungan keluarga. Salam Yuridis.id

Sumber :

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan

Kitab Undang-Undang Hukum Pidana

Anda mungkin juga berminat