Majikan Bertanggung Jawab Kesalahan Karyawan

Pengadilan Negeri Probolinggo

No. 43/Pdt/G/1986, tanggal 20 November 1986

Pengadilan Tinggi Jawa Timur di Surabaya

No. 346/Pdt/1987/PT SBY, tanggal 25 Mei 1987

Mahkamah Agung RI

No. 3679.K/Pdt/1987, tanggal 29 November 1990

Catatan Redaksi :

  • Kasus ini berkisar pada masalah juridis: “aansprakelijk heid” ex pasal 1367 (3) B.W.: Majikan dipertanggungjawabkan atas perbuatan Melawan Hukum dari karyawannya (buruhnya).
  • Dari putusan Mahkamah Agung RI tersebut di atas dapat diangkat “Abstrak Hukum” sebagai berikut:
  • Seorang sopir kendaraan bermotor yang oleh Hakim Pidana dalam putusannya dinyatakan bersalah melakukan pelanggaran pidana ex pasal 2 (1) Undang-Undang Lalu Lintas Jalan. Kesalahan ini mengandung ini mengandung arti bahwa sopir tersebut telah melanggar suatu “kewajiban hukum” yang dibebankan kepadanya oleh Undang-Undang: bahwa dalam mengemudikan mobilnya sopir harus berbuat sedemikian rupa, sehingga tidak akan membahayakan keamanan Lalu Lintas Jalan Raya.

Perbuatan sopir ini ternyata menimbulkan rusaknya barang milik orang lain, sehingga pemilik menderita kerugian. Perbuatan sopir ini merupakan suatu: “Perbuatan Melawan Hukum” ex pasal 1365 B.W.

  • Sopir yang melakukan ”Perbuatan Melawan Hukum” (on Recht matige daad) ex pasal 1365 B.W. tersebut ternyata adalah karyawan/buruh dari seorang Pengusaha Perusahaan Otobus (Tergugat II dan III). Karena itu, secara yuridis, majikan si Sopir tersebut, harus turut bertanggung jawab atas Perbuatan Melawan Hukum dari karyawannya dan turut pula membayar ganti rugi kepada pemilik barang yang menjadi rusak tersebut, ex pasal 1367 (3) B.W.
  • Dalam kasus ini, karyawan (sopir) dan Majikannya, secara juridis, bersama-sama tanggung-renteng memikul kewajiban membayar ganti rugi kepada pihak pemilik barang yang dirugikan akibat perbuatan (kesalahan) sopir tersebut. Ex pasal 1365 jo 1367 B.W.
  • Untuk dapat menerapkan ketentuan ex pasal 1367 (3) B.W. tersebut, maka diperlukan syarat, antara lain:
    – Adanya hubungan antara majikan dengan buruh/karyawan atau (ondergeschikt beid).
    – Adanya hubungan (verband) antara perbuatan buruh dengan tugas pekerjaan yang diberikan oleh majikan kepada buruhnya itu.

Hubungan tersebut sedemikian rupa eratnya, sehingga perbuatan buruh/karyawan tersebut masih termasuk dalam ruang lingkup pekerjaan yang dilakukan untuk kepentingan majikannya.

  • Demikianlah catatan redaksi

Sumber :

Majalah Hukum Varia Peradilan No.72.Tahun.VI.SEPTEMBER.1991.Hlm.5

Naskah Putusan : Tersedia (PN, PT dan MA)
WA: 0817250381

Anda mungkin juga berminat