“Delik Pencemaran Lingkungan Hidup” Kasus Oli Palsu

 

Kategori : Putusan Terpilih

Pengadilan Negeri Semarang

Nomor : 100/Pid.B/2000/PN.SMG

Tanggal : 25 Mei 2000

Mahkamah Agung RI

Nomor : 1288.K/Pid/2000

Tanggal : 12 Februari 2001

Catatan :

  • Dari putusan Mahkamah Agung tersebut diatas dapat diangkat “Abstrak – Kaidah Hukum sebagai berikut”
  • Seseorang telah tertangkap tangan oleh pihak kepolisian, tanpa izin yang berwajib, telah melakukan perbuatan mengolah “olie bekas pakai” diproses dengan zat-zat kimia untuk dijadikan “olie bening” seolah-olah sebagai “olie baru” dan sisa kotoran limbahnya dibuang dalam lubang tanah disekitar tempat pengolahannya, sehingga tanah menjadi hitam pekat berbau. “olie bekas pakai” yang telah diolah menjadi “olie bening” tersebut, tanpa merk dagang tertentu telah dijualnya kepada konsumen dan masyarakat seolah-olah sebagai “olie baru” bukan olie palsu. Perbuatan terdakwa ini dikwalifikasikan sebagai tindak pidana pencemaran Lingkungan Hidup yang diatur pasal 20 (1) undang-undang no 23/thn 1997 – jo Peraturan Pemerintah no. 18/thn 1999, yang pelakunya dijatuhkan hukuman pidana penjara dan denda.
  • Dari segi hukum acara pidana KUHAP penyidik terhadap pelaku “Tindak Pidana Pencemaran Lingkungan Hidup” ex undang-undang no. 23/thn 1997 – PP No. 18/thn 1999, bila mana sipelaku tersebut tertangkap tangan oleh pihak kepolisian, maka sebagai penyidik tunggal – polisi – tidak perlu melaporkan kepenyidik PPNS BAPEDAL, sehingga penyidikan polisi tersebut dapat diteruskan ke Kejaksaan Negeri untuk proses hukum selanjutnya.
  • Demikian pula karena pelaku tertangkap tangan (op heterdaad), maka penyidikan atas tindakan pidana Pencemaran Lingkungan Hidup, tidak perlu lagi laporan dari masyarakat yang dirugikannya kepada tersangka yang tertangkap tangan tersebut.
  • Demikian catatan dari kasus diatas.

Sumber: MAJALAH HUKUM VARIA PERADILAN NO.191.TAHUN.XVI.AGUSTUS.2001.HLM.4

PUTUSAN TERSEDIA: PENGADILAN NEGERI (PN) dan MAHKAMAH AGUNG (MA)

 

Anda mungkin juga berminat