Akibat Hukum Terhadap Kelalaian Menjaga Hewan Peliharaan Yang Mengotori Halaman Tetangga

Sumber foto : https://hellosehat.com/wp-content/uploads/2019/03/hewan-peliharaan.jpg

Hewan Peliharaan adalah makhluk hidup yang masih memerlukan perhatian khusus dari sang pemilik baik itu secara tempat tinggal, makanan, atau pengajaran yang membuat anjing tersebut mengerti hal baik dengan harapan siekor menjadikan hal baik tersebut menjadi sebuah kebiasaan. Kita sebagai pemilik hewan peliharaan tersebut pasti memiliki rasa cemas serta takut apabula sewaktu-waktu peliharaan kita tersebut mencelakai orang. Salah satu persoalan kecil yang masih menjadi masalah adalah mengajak atau mengajarkan hewan peliharaan kita agar tidak membuang kotoran dengan sembarangan. Apabila hewan peliharan tersebut kita biarka liar begitu saja sehingga membuat dia merasa tidak ada tempat khusus untuk membuang kotoran hingga sembarangan membuang kotoran.

Atau ada beberapa kita yang bertetangga dengan tetangga yang memiliki hewan peliharaan tetapi ini tidak menjadi sebuah masalah, tetapi yang menjadi masalahnya adalah ketika hewan peliharaanya dibiarkan berkeliaran yang pada akhirnya mengeluarkan kotorannya dengan tenang didepan halaman atau rumah kita. Secara manusiawi, apabila kita ingin marah tetapi takut menjadi dosa dan apabila kita diamkan takut si hewan peliharaan tadi menjadi kebiasaan. Dan sikap kita hanya bisa marah didalam hati sambil membersihkan kotoran hewan yang seharusnya tidak menjadi tanggung jawab kita.

Lalu apa yang harus kita lakukan, apabila hewan peliharaan milik tetangga tersebut menjadikan buang kotoran sembarang tersebut menjadi kebiasaan hewan peliharaan itu. Dan dari kasus ini, yang sebenarnya menjadi dasar hukum secara pastinya tidak ada karena hewan tersebut tidak sampai melukai kita. Tetapi beberapa ahli hukum harus mengemukakan bisa saja menggunakan pasal Pasal 1365 dan pasal 1368 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yang menyatakan bahwa:

Pasal 1365

“Tiap perbuatan melawan hukum yang membawa kerugian kepada orang lain, mewajibkan orang karena salahnya menerbitkan kerugian itu, mengganti kerugian tersebut.”

Pasal 1368

“Pemilik binatang, atau siapa yang memakainya, selama binatang itu dipakainya, bertanggung jawab atas kerugian yang disebabkan oleh binatang tersebut, baik binatang itu ada di bawah pengawasannya maupun binatang tersebut tersesat atau terlepas dan pengawasannya.”

Penggunaan pasal ini sebenarnya digunakan bila kita merasa terganggu baru dapat menggugat si pemilik hewan, tetapi untuk mengugat si pemiliki hewan maka harus adanya memuat unsur melawan hukum yakni perbuatan melawa hukum yang menimbulkan banyak kerugian serta sebab akibat kasus ini karena kesalahan sipemilik hewan dan menjadi tanggung jawab penuh sipemilik ketika hewan dilepaskan. Memang hal ini terlihat sepele, hanya karna kotoran membuat rusaknya kerukunan bertetangga. Cara lain aga dapat diselesaikan secara kekeluargaan tanpa adanya menggugat.

Berbeda halnya didalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang didalamnya memang jelas ada beberapa aturan yang mengatur tentang hewan begitu juga hewan peliharaan, tetapi tidak dijelaskan secara spesifik mengenai hewan peliharaan yang membuang kotoran sembarangan. Ketentuan mengenai kewajiban atau tanggung jawab pidana pemilik hewan peliharaan jika hewan yang peliharany merugikan orang lain yang diatur didalam Pasal 490 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang berbunyi:

Diancam dengan pidana kurungan paling lama enam hari, atau pidana denda paling banyak tiga ratus rupiah:

1.    barang siapa menghasut hewan terhadap orang atau terhadap hewan yang sedang ditunggangi, atau dipasang di muka kereta atau kendaraan, atau sedang memikul muatan;

2.    barang siapa tidak mencegah hewan yang ada di bawah penjagaannya, bilamana hewan itu menyerang orang atau hewan yang lagi ditunggangi, atau dipasang di muka kereta atau kendaraan, atau sedang memikul muatan;

3.    barang siapa tidak menjaga secukupnya binatang buas yang ada di bawah penjagaannya, supaya tidak menimbulkan kerugian;

4.    barang siapa memelihara binatang buas yang berbahaya tanpa melaporkan kepada polisi atau pejabat lain yang ditunjuk untuk itu, atau tidak menaati peraturan yang diberikan oleh pejabat tersebut tentang hal itu.

Apabila kita telaah dari pasal 490 KUHP diatas, penggunaan pasal ini dapat digunakan apabila perbuatan tersebut mengakibatkan kerugian bagi orang lain dalam bentuk serangan yang dilakukan oleh kewan peliharaan. Secara spesifik atau detail memang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana tidak memuat pidana mengenai pertanggungjawaban terhadap hewan yang membuang kotorannya. Oleh sebab itu dasar hukum yang dapat kita gunakan adalah pasal 1365 KUH Perdata, tetapi bila unsur-unsur melawan sudah terpenuhi.

Sebaiknya apabila kita sudah memiliki keinginan untuk memelihara hewan peliharaan, maka kita harus berkomitmen untuk menjaganya dengan mengajarkan hal yang baik apalagi hal terkecil seperti buang kotorannya agar orang lain tidak terganggu dengan keberadaan hewan peliharaan kita tersebut. Dan bagi kita bertetangga yang memelihara hewan, kia juga dapat saling mengingatkan satusama lain. Salam Yuridis.id

Sumber :

Kitab Undang-Undang Hukum Pidana

Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

Anda mungkin juga berminat